Hallojatim.com || Senin (26/10/2026). “Apa yang sebaiknya saya tulis dalam CV jika belum memiliki pengalaman kerja?” Pertanyaan tersebut menggambarkan persoalan yang dihadapi mahasiswa dan lulusan baru ketika mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Mereka telah mengikuti perkuliahan, mengerjakan proyek, berorganisasi, atau menjalani magang. Namun, ketika harus memperkenalkan diri melalui beberapa halaman dokumen, pengalaman tersebut terasa sulit dirangkai menjadi pesan yang meyakinkan.
Dari perspektif pemasaran dan komunikasi bisnis, penyusunan curriculum vitae atau CV berkaitan dengan kemampuan mengenali nilai diri dan menyampaikannya kepada pihak yang membutuhkan. Di sinilah pembahasan tentang personal branding menjadi relevan.
Personal branding membantu seseorang merumuskan identitas profesional: kompetensi apa yang ingin dikenal, kontribusi apa yang dapat ditawarkan, dan bukti apa yang mendukungnya. Kajian Gorbatov, Khapova, dan Lysova menempatkan personal branding pada persinggungan pemasaran, komunikasi, dan pengembangan karier, dengan perhatian pada pembentukan serta penyampaian nilai individu kepada audiens sasaran.
Bagi saya, pemahaman ini penting agar persiapan karier tidak berhenti pada memilih desain CV. Pelamar perlu terlebih dahulu memahami pesan yang ingin disampaikan tentang dirinya.
Seorang lulusan yang berminat pada pemasaran digital, misalnya, perlu menelusuri pengalaman yang mendukung arah tersebut. Apakah ia pernah mengelola konten organisasi, membantu promosi usaha keluarga, melakukan survei konsumen, atau mengevaluasi respons audiens dalam proyek perkuliahan?
Pengalaman itu kemudian perlu dijelaskan secara spesifik. Pernyataan “kreatif dan komunikatif” masih menyisakan banyak pertanyaan. Penjelasan mengenai tugas yang dilakukan, keputusan yang diambil, dan hasil yang dapat dibuktikan akan memberikan gambaran lebih jelas tentang kemampuan pelamar.
“Personal branding yang kredibel tumbuh ketika pesan tentang diri selaras dengan pengalaman dan kompetensi yang dapat ditunjukkan.”
Dalam proses tersebut, kecerdasan artifisial atau AI dapat menjadi alat bantu yang berguna. AI dapat membantu mengelompokkan pengalaman, memperjelas kalimat, dan menelaah keterkaitan antara isi CV dengan persyaratan lowongan.
Namun, prosesnya sebaiknya dimulai dari refleksi pribadi. Pelamar perlu menuliskan pengalaman dengan bahasanya sendiri, termasuk tanggung jawab, tantangan, dan pembelajaran yang diperoleh. Setelah itu, AI dapat diminta membantu menyusun informasi agar lebih terarah.
Sebagai ilustrasi, seseorang menulis bahwa ia “membantu usaha makanan milik keluarga”. Sebelum memperbaiki kalimat tersebut, ia perlu menjawab beberapa pertanyaan: bantuan apa yang diberikan? Apakah menerima pesanan, membuat konten, melayani pelanggan, atau mencatat penjualan?
Jawaban itulah yang menjadi bahan penyusunan CV. Jika ia memang membuat konten dan merespons pertanyaan pelanggan, pengalaman tersebut dapat dijelaskan sesuai lingkup tugasnya. Angka pertumbuhan penjualan atau pencapaian lain hanya boleh dicantumkan apabila memiliki dasar yang dapat diperiksa.
Pendekatan ini sejalan dengan panduan karier University of Manchester yang menekankan refleksi pengalaman, penyesuaian CV dengan posisi, serta penggunaan bukti keterampilan. Panduan tersebut juga mengingatkan bahwa saran AI perlu ditinjau agar tetap mencerminkan suara dan pertimbangan pribadi pelamar.
Dari sudut komunikasi, penyesuaian CV menunjukkan kemampuan memahami audiens. Informasi yang relevan untuk posisi layanan pelanggan dapat berbeda dengan informasi yang perlu ditonjolkan untuk posisi pemasaran digital. Pelamar dapat memilih penekanan yang berbeda sambil tetap mempertahankan kebenaran pengalaman.
Konsistensi pesan selanjutnya perlu dijaga ketika memasuki wawancara. CV memperkenalkan identitas profesional melalui tulisan; wawancara memberi kesempatan untuk menjelaskannya melalui percakapan.
Apabila CV menonjolkan kemampuan berkomunikasi, pelamar perlu menyiapkan pengalaman yang menunjukkan bagaimana ia mendengarkan kebutuhan orang lain, menyampaikan informasi, atau menangani kesalahpahaman. Apabila menonjolkan kerja sama, ia perlu menjelaskan kontribusinya dalam tim.
AI dapat digunakan untuk menyimulasikan pertanyaan dan meminta penjelasan lanjutan. Latihan tersebut perlu membantu pelamar memahami pengalaman serta menyampaikannya secara runtut. Jawaban akhirnya tetap perlu menggunakan bahasa yang ia pahami dan dapat pertanggungjawabkan.
Bagi perguruan tinggi, pendekatan ini membuka ruang pembelajaran yang menghubungkan komunikasi bisnis, personal branding, dan literasi AI. Mahasiswa dapat berlatih mengenali kompetensi, menyusun CV untuk posisi tertentu, lalu menjelaskan pengalaman yang sama dalam simulasi wawancara.
Penilaiannya dapat mencakup kejelasan pesan, relevansi bukti, konsistensi informasi, dan kemampuan menjawab pertanyaan. Dengan demikian, mahasiswa belajar menggunakan teknologi sambil mengembangkan pertimbangan profesionalnya.

Pembelajaran tersebut berkaitan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas, terutama target 4.4 mengenai keterampilan yang relevan untuk pekerjaan dan kewirausahaan. Keterkaitannya dengan SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi terletak pada upaya memperkuat kesiapan memasuki dunia kerja.
Kontribusi ini tetap perlu dipandang secara proporsional. CV yang baik dan personal branding yang terarah tidak menjamin seseorang memperoleh pekerjaan. Ketersediaan lowongan, kesesuaian kompetensi, dan keadilan proses rekrutmen juga berperan.
Sebagai pendidik di bidang pemasaran, saya memandang penyusunan CV sebagai kesempatan mengajarkan komunikasi nilai diri yang jujur dan relevan. AI dapat membantu memperjelas penyampaiannya. Adapun pengalaman, kompetensi, dan tanggung jawab atas pesan tersebut tetap berada pada diri pelamar.
CV yang kuat memberi pembacanya alasan untuk memahami potensi seseorang. Ketika pesan itu didukung bukti dan disampaikan secara konsisten, personal branding memiliki dasar untuk berkembang menjadi kredibilitas profesional. Tim /red












