Skema Insentif dan Tiada Tarif Dasar Picu Driver GoSend Mogok Massal

Para mitra driver GoSend Same Day Delivery (SDD) melakukan aksi mogok massal setelah adanya perubahan skema insentif yang diberlakukan Gojek mulai tanggal 8 Juni 2021. Aksi mogok massal ini bakal digelar selama 3 hari pada tanggal 8, 9, dan 10 Juni di wilayah Jabodetabek dan Bandung.

Rilis pers dari driver GoSend SDD menunjukkan adanya perubahan dalam pemberian insentif:

  • Di Jabodetabek, para driver ini sebelumnya memperoleh insentif Rp10 ribu setelah menyelesaikan 5 pengantaran dan Rp30 ribu jika menyelesaikan 8 pengantaran.
  • Dalam skema insentif yang baru, para driver akan memperoleh Rp1.000 tiap menyelesaikan 19 pengantaran dan Rp2.000 tiap menyelesaikan 1014 pengantaran.

Corporate Communications Gojek Audrey Petriny VP mengatakan perubahan skema insentif ini bertujuan untuk meratakan jumlah driver yang dapat memperoleh insentif. Dengan adanya perubahan ini, akan makin banyak driver yang mendapatkan penghasilan tambahan.

Kepada Tech In Asia, perwakilan driver GoKilat lintas komunitas, Usman mengatakan hampir semua komunitas driver GoSend SDD berpartisipasi dalam aksi mogok massal ini. Terdapat sekitar 30 komunitas yang berpartisipasi dengan jumlah anggota kurang lebih 50 driver. Artinya, ada sekitar 1.500 driver yang berpotensi mogok.

Meski banyak driver yang berpartisipasi dalam aksi ini, Usman menegaskan bahwa pemogokan ini merupakan aksi damai dan bersifat imbauan sehingga tidak ada unsur pemaksaan atau sweeping bagi driver yang masih mengambil pesanan.

“Ada beberapa teman-teman driver yang memang kebutuhannya tidak bisa ditunda seperti cicilannya jatuh tempo jadi terpaksa mengambil order,” ujar Usman.

Adanya perubahan skema insentif ini, menurut Usman justru tidak menguntungkan para driver GoSend SDD. Alasannya:

  • Para driver umumnya hanya kuat mengambil paling banyak 10 sampai 13 pengiriman dalam satu hari.
  • Jika driver mengambil 7 pengiriman, driver harus melakukan perjalanan ke 14 titik yaitu 7 titik pengambilan dan 7 titik pengantaran.
  • Jarak tempuh yang harus dilalui bisa mencapai 64 KM dan menghabiskan waktu 4 sampai 5 jam, belum dihitung kendala barang yang belum siap diambil.
  • Selain itu, Usman juga mengatakan layanan GoSend SDD tidak memiliki tarif dasar.
  • Tarif pengiriman layanan ini dihitung berdasarkan jarak lokasi pengambilan dan pengantaran barang. Jika jarak lokasi pengambilan dan pengantaran di bawah 1 KM, akan dikenakan tarif 0 rupiah.

Sementara itu, driver GoRide Ari Papoh mengatakan layanan GoRide sudah memiliki tarif dasar pengantaran sebesar Rp9 ribu. Driver GoRide juga bisa mengambil pesanan GoRide, GoFood, dan GoSend Instant. Berbeda dengan driver GoSend SDD yang hanya bisa mengambil pesanan pengiriman barang Same Day Delivery.

Selain itu, driver GoRide juga tidak dikenakan sanksi meski tidak merespons pesanan yang masuk. Berbeda dengan driver GoSend SDD yang akan mendapatkan sanksi jika mengabaikan lebih dari 4 pesanan. Sanksi yang diberikan berupa peringatan, insentif dinonaktifkan 3 hari, suspensi 7 hari sampai putus mitra.

Arif Novianto, Peneliti Institute of Governance and Public Affairs (IGPA) Universitas Gadjah Mada, mengatakan pemogokan yang dilakukan driver GoSend SDD ini terjadi secara organik karena berawal dari kekecewaan bersama.

“Dalam beberapa studi, sering disebut sebagai pemogokan liar, Artinya ada pemogokan yang tidak dikoordinir oleh serikat atau paguyuban besar. Inisiatifnya berasal dari pertukaran keresahan dan akhirnya muncul kesepakatan mogok bersama,” kata Arif.

Arif Novianto mengatakan, tidak adanya tarif dasar yang ditetapkan oleh Gojek untuk layanan GoSend SDD melanggar Menteri Perhubungan No.12 Tahun 2019 yang mengatur perhitungan biaya jasa pengemudi roda dua.

(Diedit oleh Demis Rizky Gosta)

Artikel ini telah tayang di id.techinasia.com

__Posted on
June 8, 2021
__Categories
Peristiwa, Start Up

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.