Riset: Ekonomi Digital Indonesia Bergantung pada Pertumbuhan di Luar Kota Tier Pertama

Perusahaan modal ventura Alpha JWC Ventures bersama lembaga konsultasi global AT Kearney dan Nielsen Indonesia mempublikasikan laporan terkait demografis konsumen Indonesia dalam pengembangan ekonomi digital di tanah air.

Laporan berjudul Unlocking the Next Wave of Digital Growth tersebut mengklasifikasikan konsumen Indonesia ke dalam tiga kelompok berdasarkan perilaku mereka dalam mengakses internet, yaitu:

  • Early Adopter, kelompok yang gemar mengikuti tren digital terbaru dan terbuka menyerukan adopsiteknologi terhadap lingkungan di sekelilingnya.
  • Average Majority, golongan yang mengetahui perkembangan teknologi terbaru dari lingkungan sekitar, seperti keluarga dan teman. Kelompok ini dianggap sebagai “konsumen” yang potensial bagi layanan dunia digital.
  • Laggards (golongan tertinggal), jenis kelompok yang lambat dalam mengikuti perkembangan digital, dan belum teredukasi dengan penggunaan teknologi terkini.

Riset AT Kearney beranggapan bahwa ketiga klasifikasi konsumen digital di atas dipengaruhi jumlah pendapatan masyarakat, akses finansial, infrastruktur umum, hingga akses transportasi.

Berangkat dari penilaian beberapa faktor tadi, golongan masyarakat yang berada di wilayah kota tier pertama alias metropolitan seperti Jakarta dan Surabaya, menjadi wilayah yang subur bagi perkembangan kelompok Early Adopter. Hal tersebut bisa dilihat dari hasil penelitian yang menunjukkan persentase kelompok Early Adopter lebih tinggi (sebesar 23 persen) dibandingkan jenis tier kota lainnya.

Meski demikian, potensi ekonomi digital di Indonesia juga bergantung pada sejauh mana perkembangan kelompok lainnya di luar kota metropolitan. Hasil analisis laporan tersebut menilai bahwa dominasi kelompok tertinggal di kota-kota tier kedua dan ketiga menjadi alasan mengapa rata-rata masyarakat yang mengenali sebagian besar layanan digital (di luar e-commerce) jumlahnya masih cukup sedikit.

Berdasarkan hasil survei di luar kota tier pertama, jumlah responden yang mengetahui layanan digital seperti ed-tech, payment, pinjaman online, dan healthtech tidak sampai di atas 30 persen. Ini artinya, ada banyak sekali pasar yang belum tersentuh layanan digital di Indonesia dan proses edukasi untuk mengoptimalkan pasar di luar tier kota pertama masih akan sangat diperlukan hingga dalam jangka waktu hingga lima tahun ke depan.

Agar potensi pasar layanan digital bisa lebih cepat dioptimalkan, laporan ini menyoroti beberapa hal yang bisa dilakukan pelaku sektor digital di tanah air, antara lain fokus terhadap kemudahan pemakaian produk, promosi yang gencar, dan memperluas jangkauan ketersediaan produk hingga ke wilayah pelosok perkotaan dengan pendekatan yang sesuai dengan masalah di lapangan.

Untuk hasil laporan selengkapnya lagi, kamu bisa mengunduh laporan hasil kolaborasi Alpha JWC dan AT Kearney di sini.

(Diedit oleh Aditya Hadi Pratama)

Artikel ini telah tayang di id.techinasia.com

__Posted on
April 1, 2021
__Categories
Peristiwa, Start Up

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.