Lagi-lagi, Perempuan Harus Cantik

No comment 42 views

IDNews.co.id – Seorang yang dikenal sebagai dating coach dan motivator spesialis asmara dikritik, karena menulis pernyataan di account Twitter masalah wanita mesti tampil cantik supaya dapat menarik perhatian lawan jenis dan memperoleh pasangan.

Lantas, ia makin memperoleh balasan yang sinis setelah menulis pernyataan yang seakan menunjukkan jika wanita malas untuk bikin cantik dirinya didepan pria, jadi sah saja untuk pria untuk bermalas-malasan didepan wanita. Namun, akhirnya sang motivator mengklarifikasi tentang konteks pernyataannya itu.

Pernyataan sang motivator berkaitan wanita mesti cantik supaya pria tertarik memang termasuk masuk akal, karena kenyataannya beberapa pria menyukai wanita cantik, walau preferensi dalam mencari pasangan tentunya tidak selamanya berpatokan pada kecantikan semata.

Namun, apakah sang motivator cum pakar kencan itu sudah melihat bagian gelap yang dilakukan beberapa wanita buat jadi cantik, sebelumnya keluarkan pernyataan itu?

Standarisasi Kecantikan

Jadi cantik yaitu sebuah sistem perjuangan sendiri untuk beberapa wanita. Tak ayal, pernyataan sang motivator terdengar provokatif untuk wanita yang demikian mengerti kalau sampai kini standarisasi kecantikan berbentuk semu.

Penyeragaman pengertian kecantikan yang terkait keadaan fisik, genetik, dan situasi sosial yang tidak sama pasti begitu tidak adil. Misalnya, wanita cantik itu yang berkulit putih atau yang tidak berjerawat. Padahal, warna kulit ataupun jerawat di pengaruhi faktor fisikal dan hormonal yang berlainan pada setiap orang.

Namun, tak sedikit wanita yang masih menginginkan penuhi standarisasi kecantikan itu, sampai memanfaatkan produk kosmetik ilegal. Berdasarkan data hasil penertiban selama 2016, Badan POM berhasil menemukan 9. 071 jenis (1. 424. 413 paket) kosmetik ilegal yang memiliki kandungan bahan beresiko.

Angka itu memberikan kalau sekurang-kurangnya ribuan wanita Indonesia menggunakan kosmetik beresiko buat penuhi persyaratan dalam standarisasi kecantikan. Mereka seakan tak perduli efeknya.

Terkecuali kosmetik beresiko, pemakaian obat pelangsing tanpa pengawasan dokter juga didominasi oleh wanita. Hal itu diketahui dari banyak keluhan pasien di komunitas kesehatan online berkaitan pemakaian obat pelangsing, yang menyebabkan nyeri perut saat dikonsumsi semasa menstruasi.

Beragam ragam resiko yang perlu ditempuh seorang wanita buat ikuti tafsir tunggal kecantikan ini seakan mengamini arti ‘beauty is pain’ yang popular di kelompok beauty enthusiast.

Padahal, fenomena standarisasi kecantikan wanita itu dapat dibuktikan beresiko pada alur pikir dan keadaan psikologis. Efek dari obsesi yang berlebihan itu dapat jadi penyebab awal terjadinya depresi.

Minim Edukasi

Kontradiksi di dunia kecantikan tercermin pada ide berkaitan ‘perempuan itu kecantikannya terpancar dari dalam’ yang disertai oleh masifnya propaganda kapitalis. Orang-orang juga dicekoki tentang standarisasi kecantikan fisik wanita melalui beragam media.

Kalau sudah begini, pasti ide berkaitan terutamanya inner beauty jadi tidak efisien untuk menangani sesat pikir dalam standarisasi kecantikan yang sampai kini demikian menghantui.

Sudah semestinya media dan beragam brand kecantikan ambil peranan untuk mengedukasi kelompok wanita supaya bisa bikin cantik diri dengan benar. Salah satu caranya yaitu tingkatkan kesadaran wanita akan terutamanya mengetahui beragam arti kimia yang dimanfaatkan dalam sebuah produk kecantikan.

Hampir setiap produk kecantikan mengandung zat kimia yang bisa jadi bisa buat kulit cerah dan sehat, tetapi mungkin juga mengandung zat beresiko seperti agen penyebab alergi, zat karsinogenik, bahkan bahan perusak lingkungan.

Edukasi jadi cantik dengan benar ini butuh dikampanyekan supaya wanita bisa lebih bijak menentukan produk kecantikan, makanya tak sekali lagi dibutakan oleh rencanasi kecantikan yang salah.

Ramainya fenomena beauty influencers pada jaman digital pasti juga jadi penyegaran sendiri untuk dunia kecantikan, dimana mereka biasanya melindungi independensi supaya senantiasa objektif memberikan informasi kecantikan yang tidak menyesatkan.

Terkecuali beauty influencers, kampanye jadi cantik yang sehat dan benar juga sudah banyak diangkat oleh media dan komunitas online spesial wanita, tetapi lagi-lagi segmentasinya masih begitu terbatas.

Jangan sampai sakit

Hingga sekarang ini, pemakaian kosmetik ilegal dan beresiko seperti krim wajah tanpa merk dan tanpa izin BPOM masih ramai, terlebih krim yang bisa buat wajah jadi nampak ‘putih’ kurun waktu singkat. Penjualannya bahkan mudah dibuka melalui sosial media.

Bayangkan, sehari-hari ada wanita yang mengolesi toksin ke permukaan kulitnya supaya jadi cantik, atau wanita yang membiarkan dirinya begitu kelaparan buat mencapai standarisasi kecantikan yang terlanjur terbentuk.

Menjaga penampilan fisik yaitu hal yang begitu manusiawi, tidak sekedar wanita, tapi lelaki juga. Namun, pengertian cantik seorang wanita yang kita kenal sampai kini sangat sempit, makanya masih ada beberapa wanita yang berasa kurang cantik jadi berkeras menginginkan membuat perubahan penampilannya dengan cara yang salah.

Padahal ya, pelihara kesehatan makin lebih terutama daripada cuman jadi cantik tapi tanpa sadar malah menyakiti sendiri.

Saya tak seutuhnya menyalahkan pendapat sang motivator spesialis asmara tentang wanita mesti cantik yang ramai kemarin. Sebab, apa yang dikatakannya berbasiskan kenyataan.

Namun, tanggapan keras dari umum rasanya tidaklah hal yang berlebihan, karena diluar sana banyak wanita yang menelan mentah-mentah standarisasi kecantikan sampai terobsesi dan lupa untuk menyukai dianya.

Kenyataannya, walau sudah berupaya tampil cantik juga, penampilan wanita masih riskan di-bully kan?

“Duh, dandanannya menor seperti pengin dangdutan. ”

“Duh, alisnya ketebelan seperti ulet bulu. ”

“Duh, dia sangat kurus seperti tengkorak hidup. ”

“Ah, dia cantik polesan, seandainya make-up dihapus juga tidak cantik sekali lagi. ”

Begitu melelahkannya jika menginginkan cantik buat memuaskan pendapat orang yang lain sekalian penuhi standarisasi kecantikan. Dear girls, embrace your flaws and be pretty for your own selves first.

Tidak ada yang salah dengan pigmen yang kita miliki, jangan gunakan hidroquinon apalagi mercury untuk membuatnya putih.

Menjaga kecantikan pasti tidak mesti membuat perubahan masing-masing karakter unik yang kita punya. Selama kita melindungi kebersihan badan dan melakukan alur hidup sehat, penampilan akan makin lebih fresh dan pastinya bisa tampak cantik, since make-up is not for everyone…(ndi)

Posting Lagi-lagi, Perempuan Harus Cantik ditampilkan lebih awal di IDNews.co.id.

Baca Artikel ini melalui Gadget Anda, silahkan scan QRCode berikut ini:

Related Search

author
No Response

Leave a reply "Lagi-lagi, Perempuan Harus Cantik"

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.