Kontraksi Industri Perjalanan dan Pariwisata Indonesia Selama 2020

Pandemi COVID-19 yang berlangsung sepanjang 2020 lalu membawa dampak signifikan terhadap industri perjalanan dan pariwisata global, tak terkecuali di Indonesia. Riset yang dilakukan Google, Temasek, Bain & Company menunjukkan nilai transaksi kotor industri travel online di Asia Tenggara mengalami penurunan hingga lebih dari lima puluh persen.

Jumlah wisatawan yang berkurang serta penerapan kebijakan karantina wilayah di sejumlah wilayah Indonesia membuat bisnis perhotelan meregang.

Menurut data yang dihimpun oleh Badan Pusat Statistik, rata-rata tingkat penghunian kamar (TPK) hotel golongan berbintang di Indonesia pada bulan Desember tahun lalu hanya mampu mencapai angka 40,7 persen. Tingkat okupansi hunian hotel ini lebih rendah 18,6 persen dibandingkan pada Desember 2019.

Kesulitan ini juga dialami negara-negara lain di berbagai belahan dunia. Analisis industri pariwisata oleh McKinsey & Company menyatakan pemulihan industri pariwisata akan memerlukan waktu hingga beberapa tahun agar bisa kembali seperti pada kondisi di 2019.

Menurut mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wishnutama Kusubandio, industri pariwisata di Indonesia diperkirakan baru akan pulih pada 2022. Pemerintah pun telah mempersiapkan skenario tahapan mitigasi–dari tanggap darurat, pemulihan, hingga normalisasi–agar industri pariwisata bisa pulih.

Guna memberi gambaran seberapa besar kontraksi yang dialami industri perjalanan dan pariwisata sepanjang 2020, kami menghimpun sejumlah laporan seputar kondisi sepanjang 2020, serta merangkum peristiwa-peristiwa penting yang terjadi setahun kemarin.

Kamu juga bisa mengunduh infografik di bawah melalui tautan ini.

(Diedit oleh Iqbal Kurniawan)

Artikel ini telah tayang di id.techinasia.com

__Posted on
February 25, 2021
__Categories
Peristiwa, Start Up

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.