By | July 30, 2020

Apa itu piutang? Istilah ini sering kita dengar sehari-hari. Sebagian orang bahkan sering mengaburkan istilah satu ini dengan hutang, padahal keduanya memiliki pengertian yang jauh berbeda, bahkan bertolak belakang. 

Sederhananya, piutang adalah kebalikan dari hutang. Piutang artinya adalah sebuah klaim atau tagihan yang dapat kita peroleh dari pihak lain. Dalam pembukuan, piutang dicatatkan dalam laporan keuangan jika kita belum mendapatkan pembayaran dari penjualan, pinjaman, atau transaksi lain.

Karena bersifat kewajiban, pada umumnya, piutang biasanya memiliki jangka waktu tertentu untuk dilunasi oleh debitur yang bersangkutan. Namun, ketentuan dalam pelunasannya akan berbeda-beda berdasarkan ciri-ciri dan jenis-jenisnya. 

Apa bedanya hutang dan piutang?

Hutang dan piutang meski sama-sama sebuah kewajiban yang harus dibayarkan, namun memiliki makna berbeda. 

Hutang adalah sebuah kewajiban dalam bentuk uang yang harus dibayarkan seseorang (debitur) kepada kreditur atau pemberi hutang. Hutang dalam bisnis biasanya akan dilakukan bila memberi dampak terhadap kemajuan dalam bisnis, misalnya untuk menambah karyawan atau menambah alat produksi, dan lain-lain.

Selanjutnya, hutang yang dilakukan akan dicatat dalam neraca keuangan. Tujuan peminjaman juga akan diperlihatkan di dalam laporan tersebut. Misalnya, jika meminjam untuk membeli mesin jahit produksi, itu artinya akan semakin menambah stok produk yang akan dijual kepada pelanggan.

Sementara itu, piutang adalah klaim yang dimiliki seseorang atau badan usaha terhadap orang lain atau badan usaha lain yang berhutang atau memiliki kewajiban untuk membayarkan sejumlah uang terhadapnya dalam jangka waktu tertentu. 

Piutang termasuk sebagai salah satu aktiva lancar dalam neraca perusahaan. Hal ini memiliki fungsi penting bagi perusahaan, karena bisa berperan sebagai modal pinjaman. 

Karena itu, piutang bisa berfungsi untuk menjaga kelancaran sebuah bisnis dan dimanfaatkan untuk operasional dan pengembangan dari sebuah perusahaan.

Fungsinya yang penting bisa menjadi pilihan bagi perusahaan sebagai pilihan untuk mendapatkan keuntungan.

Misalnya, CV Harmas menjual 1.000 pieces seragam kantor kepada PT Sinar Labelindo seharga Rp150 juta, namun uang pembayarannya baru akan dibayarkan di akhir bulan. Dalam hal ini, piutang adalah uang hasil penjualan seragam yang menjadi hak CV Harmas namun masih belum dilunasi oleh pelanggannya, yakni PT Sinar Labelindo. Dengan kata lain, piutang di sini adalah hasil keuntungan dari penjualan tetapi uangnya masih berada di pelanggan. 

Kesimpulannya, CV Harmas akan menerima uang Rp150 juta pada akhir bulan. Tapi, lantaran belum sampai tenggat waktu yang ditentukan, PT Sinar Labelindo masih menyimpan uang tersebut. Maka, uang Rp150 juta itu yang disebut piutang milik CV Harmas.

Apa saja yang termasuk piutang

Lalu, apa saja sih yang termasuk dalam piutang? Umumnya, piutang dibagi dalam tiga jenis  yaitu, piutang usaha, wesel tagih, dan piutang lain-lain. 

Untuk lebih jelasnya, mari simak selengkapnya di bawah ini.

  • Piutang usaha (account receivable)
  • Wesel tagih (notes receivable)
  • Piutang lain-lain (other receivable)

1. Piutang usaha (account receivable)

Piutang usaha atau biasa juga disebut piutang dagang, biasanya terjadi karena adanya penjualan kredit (dalam perusahaan dagang). Hal ini timbul sebagai akibat dari pembelian barang atau jasa secara kredit oleh pelanggan. Umumnya, masa pelunasannya berkisar pada satu hingga dua bulan.

Sementara itu, jika dalam perusahaan jasa, piutang usaha terjadi karena adanya pekerjaan yang sudah dikerjakan, namun belum menerima pembayaran (uang sebagai imbal jasa). 

Contoh piutang usaha

PT Delima Jaya adalah sebuah perusahan vehicle manufacture yang menjual produknya kepada Pabrik Kopi Liong senilai Rp150 juta. Pihak Pabrik Kopi Liong baru membayarkan sebagiannya, yaitu senilai Rp25 juta, dan sisanya akan dilunasi pada bulan berikutnya. Maka jika dibuat dalam bentuk jurnal umum, piutang usaha tersebut akan menjadi seperti di bawah ini.

Kas Rp25 juta
Piutang Usaha Rp125 juta
Penjualan Rp150 juta

2. Wesel tagih (notes receivable)

Piutang ini memiliki bentuk fisik berupa surat formal yang diterbitkan sebagai bentuk pengukuran utang

Pinjaman jenis ini memiliki waktu tagih antara 2-3 bulan. Pelunasan utang di dalam kurung waktu tersebut tidak akan dikenakan bunga.

Namun, jika debitur meminta perpanjangan masa pelunasan, maka akan dikenakanlah bunga sesuai masa perpanjangan per bulan yang diminta.

Contoh wesel tagih

Nilai jatuh tempo wesel adalah Rp100 juta. Debitur meminta perpanjangan sebulan untuk melunasinya, sehingga baru akan lunas di bulan keempat. Maka dari itu, dikenakan bunga sebesar 10 persen per bulan. Jumlah yang harus dibayarkan ketika wesel tagih jatuh tempo adalah:

nilai jatuh tempo + (nilai jatuh tempo x bunga x durasi hari / 365 hari)

Perhitungannya menjadi seperti berikut.

Rp100 juta + (Rp100 juta x 10% x 120/365) = Rp103.287.671,23 

Dengan demikian jumlah wesel tagih yang harus dibayarkan adalah Rp103.287.671,23.

3. Piutang lain-lain (other receivable)

Piutang ini adalah jenis yang lebih luas, sebab mencakup piutang bunga, piutang gaji, uang muka karyawan, serta restitusi pajak. Karena sifatnya yang luas, maka catatannya bisa dilaporkan secara terpisah dalam neraca.

Apa ciri-ciri piutang?

Secara umum, ada tiga ciri utama atas sesuatu yang bisa disebut sebagai piutang. Yaitu, adanya nilai jatuh tempo, tanggal jatuh tempo, dan adanya bunga yang diberlakukan.

  • Nilai jatuh tempo
  • Tanggal jatuh tempo
  • Bunga yang berlaku

1. Nilai jatuh tempo

Nilai jatuh tempo adalah penjumlahan dari nilai transaksi utama ditambah dengan bunga yang dibebankan untuk dibayarkan pada saat tanggal jatuh tempo.

Misalnya, kamu membeli sebuah barang dengan sistem kredit. Maka, kamu harus membayarkan sesuai harga barang yang dibeli tersebut, ditambah bunga yang sudah ditetapkan.

2. Tanggal jatuh tempo

Tanggal jatuh tempo bisa diketahui dari lamanya umur pinjaman ini. Umumnya, pengukuran umur pinjaman ini terbagi menjadi dua aturan pelunasan, yaitu harian dan bulanan. 

Jika berumur bulanan, maka tanggal jatuh tempo disamakan dengan tanggal transaksi, namun di bulan yang berbeda. Misalnya terdapat transaksi pada 19 Juli, maka jatuh temponya adalah tanggal yang sama di bulan berikutnya, yakni 19 Agustus, atau 19 September, 19 Oktober, dan seterusnya.

Sedangkan jika pinjaman ini berumur harian, kamu wajib menentukan tanggal jatuh tempo secara harian dengan cermat. Misalnya, transaksi terjadi pada 19 Juli, jika jatuh tempo terjadi dalam 30 hari, maka kamu sudah harus melunasi pembayaran sebelum rentang waktu tersebut berakhir.

3. Bunga yang berlaku

Bunga pada piutang terjadi akibat seseorang memutuskan melakukan sistem kredit. Dalam hal ini, bunga dianggap sebagai kompensasi karena meminta waktu dalam melunasi pembayaran dan sekaligus dinilai sebagai keuntungan atas kesabaran penjual dalam menunggu pelunasan.

Mengenai besaran suku bunga yang dikenakan akan bergantung kepada kebijakan setiap penjual.

Apa yang dimaksud piutang karyawan?

Piutang pada karyawan biasanya terjadi saat sebuah perusahaan meminjamkan dana atau kredit kepada karyawannya. Di pembukuan perusahaan, hal itu akan tercatat sebagai piutang dagang atau piutang usaha.

Misalnya, seorang karyawan swasta bernama Dana meminjam uang atau sering diistilahkan kasbon. Pembayarannya sesuai dengan besaran jumlah uang yang dipinjam, jangka waktu dan besaran bunga yang dibebankan dalam piutang tersebut. Di akhir bulan, gaji karyawan tersebut akan dipotong sesuai dengan jumlah kasbon yang dilakukannya.

Undang-Undang PPh Pasal 6 Ayat 1 Huruf H atau UU Nomor 36 Tahun 2008 mengatur bahwa piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih (dan memenuhi syarat tertentu) dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan bruto dalam menghitung penghasilan kena pajak.

Baca Juga :  Banjir Jember Rendam 23 Desa

Adapun definisi dari piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih adalah piutang yang timbul dari transaksi bisnis yang wajar sesuai dengan bidang usahanya, yang nyata-nyata tidak dapat ditagih meskipun telah dilakukan beragam upaya penagihan yang maksimal oleh wajib pajak.

Meski begitu, ternyata ada syaratnya agar biaya kerugian penghapusan piutang dapat diperhitungkan sebagai pengurang penghasilan bruto yang aturannya diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor PMK-57/PMK.03/2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 105/PMK.03/2009 Tentang Piutang Yang Nyata-Nyata Tidak Dapat Ditagih Yang Dapat Dikurangkan Dari Penghasilan Bruto, sebagai berikut.

  • Dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial.
  • Wajib Pajak wajib membuat daftar piutang yang tidak dapat ditagih tersebut dan diserahkan kepada Kantor Pajak dimana wajib pajak terdaftar saat melakukan pelaporan SPT Tahunan PPh Badan.
  • Telah diserahkan perkara penagihan kepada Pengadilan Negeri, atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan; atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum, maksudnya dipublikasikan di dalam surat kabar; atau adanya pengakuan dari debitur bahwa hutangnya telah dihapuskan untuk jumlah utang tertentu.
  • Akan tetapi, untuk syarat nomor 3 ini tidak berlaku penghapusan kepada debitur kecil. Syarat batasan debitur kecil tidak lebih dari Rp5 juta.

Jadi, secara tidak langsung dapat diambil kesimpulan bahwa piutang tidak dapat dikenakan pajak. Selain itu, tidak ada hukum yang menyatakan pembayaran pajak atas piutang.

Piutang pajak adalah istilah dengan penerapan yang berbeda. Pinjaman satu ini muncul karena adanya pendapatan pajak sebagaimana diatur dalam Undang-undang Perpajakan yang belum dilunasi sampai dengan akhir periode laporan keuangan.

Piutang pajak diakui saat diterbitkannya Surat Ketetapan Pajak atau Surat Tagihan Pajak dan telah dilaksanakan proses penagihannya. Pengakuan ini disebabkan adanya potensi pendapatan negara yang ditentukan oleh peraturan perundang-undangan sesuai dengan UU KUP No. 29 tahun 2007. Sesuai kewenangannya, terdapat perbedaan jenis pajak yang dipungut oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Baca Juga :  ECJWO Jatim Minta KPK Segera Usut Tuntas Kasus Dugaan Korupsi di Surabaya

Kegiatan penagihan piutang pajak secara umum meliputi:

  • Surat Teguran
  • Surat Paksa
  • Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan
  • Lelang

Itulah pengertian piutang, ciri-ciri, jenis hingga contohnya dalam kehidupan sehari-hari yang bisa menjadi gambaran kewajiban membayarkan pinjaman kepada pihak lain. 

Mengelola piutang memang bukan hal yang mudah, namun jika dilakukan dengan baik, maka dapat memberikan manfaat dan mendorong tercapainya tujuan sebuah usaha. 

Apalagi, karena piutang dalam akuntansi termasuk aset lancar, maka hal ini harus dijaga dengan baik agar tetap mendapatkan keuntungan. Semoga informasi ini bermanfaat ya!

Sumber: lifepal.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.